Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DaerahNewsPendidikan

Puncak Festival Pesantren Takalar, Bupati Daeng Manye Tegaskan Kolaborasi Tak Boleh Berhenti di Panggung

1
×

Puncak Festival Pesantren Takalar, Bupati Daeng Manye Tegaskan Kolaborasi Tak Boleh Berhenti di Panggung

Sebarkan artikel ini

TAKALAR | KHATULISTIWA.MEDIA – Bupati Takalar, Mohammad Firdaus Daeng Manye, mendorong 24 pondok pesantren di Kabupaten Takalar untuk memperkuat kolaborasi, meningkatkan kemandirian, dan mengambil peran lebih besar dalam pembangunan daerah melalui Festival Pondok Pesantren se-Kabupaten Takalar, yang digelar bertepatan dengan momentum Hari Santri Nasional 2026.

Tak sekadar menjadi panggung pertunjukan seni, festival ini diarahkan sebagai titik awal membangun komunikasi dan kerja sama antarpesantren. Daeng Manye menegaskan, potensi besar yang dimiliki para santri perlu mendapat ruang untuk berkembang, sekaligus menjadi kekuatan dalam mencetak sumber daya manusia yang berilmu, berakhlak, kreatif, dan berdaya saing.

Banner

Dalam sambutannya pada malam pembukaan pergelaran seni festival, Daeng Manye mengungkapkan bahwa gagasan tersebut berawal dari kunjungannya ke Pondok Pesantren Nurul Asafa sekitar satu setengah hingga dua bulan sebelum kegiatan berlangsung. Ia mengaku terkesan menyaksikan pertunjukan seni yang digelar para santri hingga selesai.

“Saya melihat, luar biasa pertunjukan pagelaran ini. Malam itu juga saya sampaikan kepada pimpinan pondok pesantren bahwa Insyaallah Takalar akan mengadakan Festival Pondok Pesantren se-Kabupaten Takalar,” ungkap Bupati Daeng Manye, Kamis Malam (22/10/2026).

Gagasan itu semakin menguat setelah dirinya menghadiri kegiatan serupa di Pondok Pesantren Mahyatul Qur’an, Bilasa. Dari kedua pengalaman tersebut, ia melihat bahwa pesantren tidak hanya memiliki kekuatan dalam pendidikan agama, tetapi juga menyimpan potensi seni, kreativitas, dan keterampilan yang layak ditampilkan kepada masyarakat luas.

Bupati Daeng Manye menilai kemampuan para santri dalam menyukseskan festival menjadi bukti bahwa lingkungan pesantren memiliki sumber daya manusia yang potensial. Mulai dari desain panggung, dekorasi, pencahayaan, hingga pengelolaan rangkaian acara, berbagai aspek kegiatan turut melibatkan kemampuan dan kreativitas kalangan pesantren.

Menurutnya, pesantren tidak semata-mata menjadi tempat menimba ilmu agama. Lembaga pendidikan Islam tersebut juga berperan dalam membentuk karakter, menanamkan nilai moral, serta mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan generasi muda untuk menghadapi tantangan zaman.

Karena itu, keberadaan 24 pondok pesantren di Takalar perlu didukung melalui penguatan kerja sama dan pengembangan potensi secara berkelanjutan. Daeng Manye berharap setiap pesantren semakin mandiri, kompetitif, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan daerah.

Ia juga mengingatkan agar festival tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial yang hanya menghadirkan kemeriahan selama acara berlangsung. Lebih dari itu, momentum tersebut diharapkan melahirkan program bersama yang terarah dan memberikan manfaat jangka panjang bagi dunia pendidikan pesantren.

Dorong Pembentukan Forum Komunikasi Pesantren

Salah satu gagasan penting yang disampaikan Daeng Manye adalah pembentukan Forum Komunikasi dan Silaturahmi Pondok Pesantren se-Kabupaten Takalar.

Forum tersebut diharapkan menjadi wadah bagi para pimpinan pesantren untuk bertukar pengalaman, menyampaikan aspirasi, membahas tantangan pendidikan, serta merumuskan langkah bersama dalam meningkatkan kualitas lembaga masing-masing.

Melalui forum itu, komunikasi antara pesantren, pemerintah daerah, dan masyarakat diharapkan semakin terbuka. Pengembangan pesantren pun dapat dilakukan secara lebih terkoordinasi, sehingga setiap lembaga tidak berjalan sendiri-sendiri dalam menghadapi berbagai kebutuhan dan tantangan.

Bupati Daeng Manye turut menyinggung keberadaan Direktorat Jenderal Pesantren di Kementerian Agama Republik Indonesia sebagai salah satu peluang untuk memperkuat komunikasi dan pengembangan pendidikan pesantren.

Pembentukan forum tersebut menjadi penting agar potensi, kebutuhan, dan program pengembangan pesantren di Takalar dapat dihimpun serta dikomunikasikan secara lebih sistematis.

Festival Harus Melahirkan Kolaborasi Nyata

Festival Pondok Pesantren se-Kabupaten Takalar menjadi ruang pertemuan bagi santri, pimpinan pesantren, pemerintah daerah, dan masyarakat untuk membangun hubungan yang lebih erat. Melalui kegiatan ini, para santri memperoleh kesempatan menunjukkan kemampuan, sementara antarpesantren dapat saling mengenal dan membuka peluang kerja sama.

Tantangan berikutnya adalah memastikan semangat kebersamaan tersebut berlanjut setelah panggung festival berakhir. Penguatan forum komunikasi, peningkatan mutu pendidikan, pengembangan keterampilan santri, dan kemandirian pesantren menjadi sejumlah hal yang perlu ditindaklanjuti agar festival tidak sekadar menjadi agenda tahunan.

Bagi Pemerintah Kabupaten Takalar, pesantren merupakan bagian penting dalam pembangunan sumber daya manusia. Pendidikan agama, pembentukan karakter, dan pengembangan kreativitas santri diharapkan berjalan beriringan untuk melahirkan generasi yang mampu menghadapi perubahan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai moral.

Melalui momentum Hari Santri Nasional 2026, Bupati Daeng Manye berharap 24 pondok pesantren di Takalar semakin solid dan berdaya. Festival ini diharapkan menjadi awal kolaborasi yang lebih kuat, sehingga potensi santri tidak hanya tampil di atas panggung, tetapi juga berkembang menjadi kekuatan nyata bagi kemajuan Kabupaten Takalar.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *