JAWA TIMUR | KHATULISTIWA.MEDIA,–Dalang kondang Ki MPP Bayu Aji Pamungkas dari Solo tampil trengginas memainkan sabetan wayang dengan lakon ”Pendawa Bangun Praja” yang berlangsung di Taman Blambangan Sabtu malam (13/6). Putra maestro dalang papan atas nasional almarhum Anom Suroto tersebut benar-benar menyihir ribuan penonton yang memadati Taman Blambangan malam itu.
Pergelaran wayang kulit dimulai pukul 21.00 dan berakhir menjelang subuh dini hari. Sebelum pertunjukan dimulai, Kapolda Jatim Irjen Pol Nanang Avianto, Kapolresta Kombespol Rofiq Ripto Himawan, Wakil Bupati Mujiono, Ketua MUI KH Muhaimin Asymuni, dan Ki Dalang Bayu Aji melepas kupat luar sebagai simbol telah terpenuhinya janji atau nazar. Seremonial pra acara dilanjutkan melepas 17 ekor burung merpati sebagai simbol perdamaian. Turut melepas merpati Wabup Mujiono dan Ketua MUI.
Kapolda Jatim lalu naik panggung menyerahkan tokoh wayang Werkudoro kepada dalang Ki Bayu Aji. Pergelaran wayang pun dimulai setelah Bayu Aji duduk bersila di depan geber. Di tengah acara berlangsung, mantan Menpan-RB Abdullah Azwar Anas dan Bupati Ipuk Fiestiandani datang dan dipersilakan duduk di deretan tamu VIP.
Tamu yang diundang dalam pergelaran wayang kulit dari lintss elemen. Ada Ketua DPRD Made Cahyana Negara, Wakil Ketua DPRD Michael Edy Hariyanto, para kepala desa, DKB, pencinta seni, dalang muda Banyuwangi, Ormas Islam, tokoh agama, organisasi kemahasiswaan, dll.
Selama pertunjukan, Ki Bayu Aji diiringi sinden dan penabuh gamelan tampil all out untuk kali pertama di Alun-Alun Banyuwangi. ”Animo penonton Banyuwangi sungguh luar biasa. Terima kasih dukungan masyarakat, kami bisa tampil di Banyuwangi.
Tak lupa kami mengucapkan terima aksih kepada Bapak Kapolda Jatim Irjen Pol Nanang Avianto dan Pak Kapolresta Kombespol Rofiq Ripto Himawan yang telah mengundang saya hadir di Banyuwangi,’’ kata Ki Bayu Aji ditemui di Hotel Blambangan tempat dia dan rombongan menginap.
Bagi-Bagi Door Prize Menarik
Sebelum Ki Bayu Aji tampil, sejak pukul 19.00, penonton dihibur penampilan seniman lokal Catur Arum dan maestro gandrung Temu Misti. Selama pergelaran berlangsung di sesi limbukan dan goro-goro, duet pelawak Gandu dan Pentol asal Banyuwangi ikut mengocok perut ribuan penonton.
Untuk menyemarakkan acara, panitia juga berbagi ratusan door prize menarik. Ada kipas angin, setrika listrik, hingga blender. Hadiah utama berupa a unit sepeda motor manual dan dua motor listrik.
Pergelaran wayang kulit dalam rangka menyongsong HUT ke-80 Bhayangkara ini digelar atas inisiasi Polda Jatim.
Mengingat tempat pertunjukan yang luas, panitia telah menyebar seribu undangan dari berbagai kalangan. Ada Forkopimda, pencinta seni, kepala desa, dan semua lapisan masyarakat. Dipilih tempat Taman Blambangan karena tempatnya luas dan berada di pusat kota.
Semangat Jogo Jawa Timur
Kapolda Jatim Irjenpol Nanang Avianto mengatakan, pergelaran wayang kulit digelar di Banyuwangi karena untuk meratakan kegiatan Polda di daerah-daerah di Jawa Timur.
Menurut Kapolda, wayang kulit digelar bukan sebagai hiburan semata, tapi sebagai sarana introspeksi dan tuntutan hidup. Esensi lakon Pandawa Bangun Praja sangat relevan dengan komitmen Polri, yaitu menyongsong HUT ke-80 Bhayangkara.
”Sosok Pandawa adalah representasi Polri sebagai pengayom masyarakat yang rela berkurban demi tegaknya keadilan dan kebenaran. Filosofi lakon malam ini sebagai semangat ”Jogo Jawa Timur”, yaitu sebuah semangat gotong royong,’’ bebernya.
Kapolresta Sumbang Lagu Nyidam Sari
Sementara itu, di sela pergelaran sesi limbukan, Kapolresta Kombespol Rofiq Ripto didaulat naik panggung dengan menyumbanghkan tembang ”Nyidam Sari”.
Suara merdu Kapolresta diiringi jogetan duet pelawak Gandu dan Pentol menyihir ribuan penonton. Usai nembang, dia memberikan sedikit pencerahan tentang budaya.
”Budaya itu adalah ringkasan cipta, rasa, dan karya. Budaya adilihung harus menjadikan cerminan hidup bangsa.
Harapan saya dengan pergelaran wayang ini kita kembali ke koridor kita berbangsa karen banyak tauladan dan contoh kebaikan dari cerita wayang.
Kapolresta Rofiq berharap masyarakat Banyuwangi yang kaya akan budaya jangan sampai kemudian lupa dengan budayanya sendiri. Masyarakat harus lebih ingat kembali bahwa leluhur berupaya berbuat baik dan tidak perlu meniru budaya yang tidak cocok dengan buadaya bangsa Indonesia.
”Yang bisa saya samapikan malam ini, polisi tidak akan bisa bekerja memberikan jaminan keamanan tanpa masyarakat bisa menjadi polisi untuk dirinya sendiri,’’ pesannya.
















