AUSTRALIA | KHATULISTIWA.MEDIA – Perusahaan teknologi asal Australia, Canva Inc., mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) dan restrukturisasi besar-besaran yang berdampak terhadap 1.271 karyawan atau sekitar 22 persen dari total tenaga kerjanya.
Kebijakan tersebut dilakukan di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang mulai mengubah peta persaingan industri perangkat lunak global.
Berdasarkan informasi yang dihimpun redaksi, Jumat (6/11/2026), keputusan tersebut disampaikan langsung oleh Chief Executive Officer (CEO) Canva, Melanie Perkins.
Dalam kebijakan restrukturisasi tersebut, para karyawan yang terdampak akan menghadapi sejumlah perubahan, mulai dari kehilangan pekerjaan, peralihan ke posisi atau peran baru, hingga pemindahan ke pusat operasional Canva lainnya.
Langkah ini mencerminkan besarnya tekanan yang tengah dihadapi industri teknologi, khususnya perusahaan pengembang perangkat lunak yang harus beradaptasi dengan perubahan akibat kemajuan AI.
Kehadiran teknologi kecerdasan buatan dinilai membawa tantangan baru bagi model bisnis perusahaan software global. Teknologi tersebut dinilai berpotensi mengubah cara masyarakat menggunakan layanan digital sekaligus menggerus sejumlah pasar yang selama ini menjadi sumber pendapatan perusahaan perangkat lunak.
Di sisi lain, perusahaan teknologi dituntut melakukan penyesuaian strategi bisnis, efisiensi operasional, serta pengembangan produk agar tetap mampu bersaing di tengah transformasi digital yang semakin cepat.
Restrukturisasi Canva menjadi salah satu gambaran bagaimana perkembangan AI tidak hanya menghadirkan peluang inovasi, tetapi juga membawa konsekuensi terhadap struktur tenaga kerja di industri teknologi global.
















