TAKALAR | KHATULISTIWA.MEDIA — Pelayanan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 74.922.43 Kalampa, Kabupaten Takalar, menuai sorotan. Ketua HMI Cabang Takalar, Aditya, mengamuk setelah pengisian Pertalite dihentikan ketika antrean kendaraan warga mengular dan telah berlangsung lebih dari satu jam, Kamis (10/09/2026).
Aditya bersama sejumlah warga dan pengendara sebelumnya ikut mengantre untuk mendapatkan BBM Pertalite. Namun, di tengah panjangnya antrean, operator SPBU disebut menyampaikan bahwa stok Pertalite telah habis.
Kondisi tersebut sontak memicu protes. Aditya mempertanyakan alasan penghentian pengisian karena menurutnya masih terdapat kendaraan yang baru saja melakukan pengisian Pertalite.
“Saya mendatangi pihak operator dan menyampaikan, kenapa menghentikan pengisian padahal antrean panjang masyarakat sudah lama menunggu. Jawabannya ke saya, sudah habis,” jelas Aditya.
Aditya kemudian mengaku mendesak pihak operator untuk memeriksa nozzle pengisian. Dari situ, ia mempertanyakan kembali informasi mengenai stok Pertalite setelah melihat adanya kendaraan yang disebut baru selesai melakukan pengisian.
Menurut Aditya, pihak operator kemudian memberikan penjelasan bahwa stok Pertalite tersebut sengaja disimpan untuk kebutuhan pengisian pada hari berikutnya.
“Setelah saya mendesak memeriksa mesin nozzle dan melihat kendaraan yang baru selesai mengisi Pertalite, pihak operator baru menjelaskan bahwa BBM Pertalite saya simpan untuk besok,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut semakin membuat Aditya geram. Ia menilai masyarakat yang telah mengantre selama berjam-jam berhak mendapatkan informasi yang jelas dan transparan mengenai ketersediaan BBM di SPBU.
“Inilah yang membuat kekecewaan saya bersama masyarakat. Atas pelayanan SPBU Kalampa Takalar yang disertai kebohongan, membodohi publik,” tegas Aditya.
Aditya menilai persoalan tersebut tidak boleh dianggap sepele. Menurutnya, jika benar stok BBM masih tersedia tetapi masyarakat yang telah mengantre justru diberi informasi bahwa stok telah habis, maka kondisi tersebut perlu mendapat perhatian dan klarifikasi dari pihak pengelola maupun instansi berwenang.
Tak hanya SPBU Kalampa, Aditya bahkan mengaku memiliki kecurigaan terhadap praktik serupa di sejumlah SPBU lainnya di Kabupaten Takalar.
“Saya menduga seluruh SPBU di Kabupaten Takalar melakukan tindakan tersebut,” ucap Aditya.
Namun, dugaan tersebut masih merupakan pernyataan pribadi Aditya dan belum dapat digeneralisasi sebagai fakta terhadap seluruh SPBU di Kabupaten Takalar. Karena itu, diperlukan klarifikasi dari manajemen SPBU 74.922.43 Kalampa serta pengawasan dari pihak berwenang untuk memastikan kondisi stok, mekanisme penjualan, dan alasan penghentian pengisian Pertalite saat antrean masyarakat masih berlangsung.
Pertanyaan publik kini sederhana: jika stok Pertalite memang masih tersedia, mengapa masyarakat yang telah mengantre lebih dari satu jam justru diberitahu bahwa BBM telah habis?
Transparansi pengelolaan BBM bersubsidi menjadi penting agar masyarakat tidak merasa dipermainkan ketika berhadapan dengan antrean panjang dan keterbatasan stok.Kini jelas kelangkaan BBM dan Antrian panjang biangnya disana.
















