Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DaerahNasionalNews

35 Tahun Mengabdi, Komjen Fadil Imran Pamit: “Saya Datang sebagai Pimpinan, Pergi sebagai Saudara”

48
×

35 Tahun Mengabdi, Komjen Fadil Imran Pamit: “Saya Datang sebagai Pimpinan, Pergi sebagai Saudara”

Sebarkan artikel ini

MAKASSAR | KHATULISTIWA.MEDIA — Perjalanan panjang Komjen Pol. (Purn.) Dr. Mohammad Fadil Imran, M.Si. di institusi Kepolisian Negara Republik Indonesia resmi mencapai garis akhir. Setelah sekitar 35 tahun mengabdi, jenderal polisi bintang tiga asal Makassar, Sulawesi Selatan, itu menutup masa kedinasannya sebagai Asisten Utama Operasi (Astamaops) Kapolri.

Dalam acara pisah sambut purnabakti, Fadil Imran menyampaikan pesan penuh haru di hadapan rekan-rekan dan jajaran kepolisian. Didampingi sang istri, ia menegaskan bahwa kata yang paling tepat untuk menggambarkan perjalanan panjangnya adalah “syukur.”

Banner

“Saya berdiri di depan rekan-rekan dalam satu perasaan, yaitu syukur. Kata ini sederhana, tapi dalam maknanya. Saya ingin menyampaikan kalimat yang sangat indah dan perasaan yang paling tinggi, yakni syukur,” ujar Fadil Imran.

Menurutnya, kesempatan mengabdi selama lebih dari tiga dekade merupakan anugerah. Sepanjang perjalanan itu, ia mengaku dipertemukan dengan banyak orang yang memberikan warna sekaligus pelajaran dalam kehidupannya.

“Karena Allah memberikan saya kesempatan untuk mengabdi tiga dekade. Syukur, sepanjang perjalanan ini saya dipertemukan banyak orang, dan orang-orang itu adalah orang-orang baik,” tuturnya.

Jabatan Berakhir, Persaudaraan Tak Boleh Putus

Fadil menyadari bahwa setelah purnatugas, suasana kehidupannya akan berubah drastis. Tidak ada lagi laporan operasi, paparan staf, maupun telepon yang selama ini menjadi bagian dari rutinitasnya sebagai pejabat tinggi Polri.

“Malam ini jabatan saya berakhir dan besok mungkin tidak lagi meminta laporan operasi, tidak ada lagi staf yang datang membawa paparan. Telepon saya agak sedikit sepi, tapi yang saya harapkan tidak pernah berubah, silaturahmi antara kita,” jelasnya.

Ia pun menyampaikan pesan sederhana kepada seluruh kolega yang pernah berjalan bersamanya selama bertugas.

“Karena saya purnatugas, kalau bertemu tegur saya. Kalau ada waktu kita minum kopi. Kalau ada kabar baik, ceritakan kepada saya. Kalau menghadapi kesulitan dan saya bisa membantu, hubungi saya,” kata Fadil.

Kemudian, ia melontarkan kalimat yang menjadi salah satu pesan paling kuat dalam acara tersebut.

“Saya memang pamit dari kedinasan, tapi tidak pamit dari persaudaraan,” ungkapnya.

Dari Anak Daerah hingga Jenderal Bintang Tiga

Perjalanan Fadil Imran menjadi salah satu gambaran panjang pengabdian seorang putra daerah yang meniti karier dari bawah hingga mencapai posisi strategis di tubuh Polri.

Lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1991 itu menghabiskan sekitar 35 tahun hidupnya untuk institusi kepolisian. Berbagai jabatan strategis pernah dipercayakan kepadanya, mulai dari Kapolda Jawa Timur, Kapolda Metro Jaya, Kepala Badan Pemelihara Keamanan (Kabaharkam) Polri, hingga jabatan terakhir sebagai Astamaops Kapolri.

Kini, perjalanan tersebut ditutup dengan status purnawirawan.

Namun, bagi Fadil, purna tugas bukan berarti berakhirnya hubungan dengan orang-orang yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Ia menyampaikan apresiasi kepada Kapolri, seluruh pimpinan Polri, jajaran operasi di seluruh Indonesia, hingga para anggota yang pernah bekerja dan berjalan bersamanya.

“Terima kasih kepada Bapak Kapolri dan seluruh pimpinan Polri atas kepercayaan yang diberikan kepada saya. Terima kasih pada seluruh jajaran operasi di Indonesia dan terima kasih pada setiap anggota yang pernah berjalan bersama saya,” ujarnya.

“Saya Datang sebagai Pimpinan, Pergi sebagai Saudara”

Di penghujung sambutannya, Fadil Imran menyampaikan kalimat perpisahan yang sarat makna.

“Saya Muhammad Fadil Imran beserta keluarga pamit. Terima kasih untuk perjalanan luar biasa ini,” katanya.

Ia kemudian menutup pengabdiannya dengan sebuah pesan yang menggambarkan perubahan statusnya dari seorang pejabat menjadi seorang purnawirawan, namun tetap ingin mempertahankan ikatan persaudaraan.

“Saya datang sebagai pimpinan, tapi malam ini izinkan saya pergi sebagai saudara.”

Kalimat tersebut menjadi penanda berakhirnya 35 tahun perjalanan Fadil Imran di institusi Polri,sebuah perjalanan dari anak daerah asal Makassar hingga mencapai pangkat Komisaris Jenderal Polisi, sebelum akhirnya meninggalkan kedinasan dengan satu pesan: jabatan boleh berakhir, tetapi persaudaraan dan silaturahmi jangan pernah berakhir.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *