HukumNewsOlahraga

Diterpa Tiga Laporan Polisi, Eks Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto: Saya Tetap Jadi Warga Negara Kritis

20

JAKARTA | KHATULISTIWA.MEDIA – Mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, akhirnya angkat bicara setelah dirinya dilaporkan ke kepolisian oleh tiga pihak berbeda. Meski salah satu laporan disebut telah memasuki tahap penyidikan, Tiyo mengaku tetap berpikir pada hal-hal substantif dan tetap jadi warga negara kritis, sabtu (27/06/2026).

Tiga laporan tersebut berasal dari advokat Muhammad Firdaus Oiwobo di Polres Tangerang Selatan, praktisi hukum Farhat Abbas di Bareskrim Polri, serta Garda Prabowo yang juga melaporkan Tiyo ke Bareskrim Polri.

Dilansir dari stasiun TV, Firdaus Oiwobo menyampaikan ia polisikan karna Saya ini pemilik dapur SPPG di tangerang dan tiyo melakukan penghasutan sebut SPPG sebagai satuan penjilat prabowo gibrang.

Sementara itu, Kasi Humas Polres Tangerang Selatan Ipda Yudhi Susanto mengatakan pelapor telah dimintai klarifikasi. Namun, pemeriksaan masih akan berlanjut karena penyidik membutuhkan pendalaman.

“Masih pendalaman, sudah dilakukan pemeriksaan, namun akan melanjutkan. Jadi masih dalam pemeriksaan pelapor,” kata Yudhi,dikutip,Jumat (26/6/2026)

Menanggapi laporan yang diarahkan kepadanya, Tiyo memilih merespons dengan tenang. Ia bahkan menyampaikan terima kasih kepada para pelapor dan menyebut momentum tersebut sebagai bentuk loyalitas mereka kepada Pak Presiden Prabowo.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang melaporkan saya. Momentum ini memang bagus untuk mereka yang ingin mempersembahkan loyalitasnya kepada Pak Presiden Prabowo. Saya berharap semoga Pak Presiden memberikan apresiasi terbaik kepada mereka,” ujar Tiyo.

Ia menegaskan akan menghormati seluruh proses hukum yang berjalan dan siap memenuhi panggilan penyidik apabila diperlukan.

“Saya akan fokus kepada hal-hal substantif dan strategis. Kalau kita diundang kepolisian, kita akan datang. Kalau diminta memberikan keterangan, akan kita berikan,” katanya.

Tiyo juga menambahkan dirinya hanya akan menggunakan energi secukupnya untuk menghadapi laporan tersebut.

“Satu perang yang saya ambil adalah menjadi warga negara yang kritis, yang tidak rela apabila mereka yang kita perintah untuk memperbaiki bangsa justru malah menghancurkan bangsa,” tegasnya.

Di sisi lain, ia juga menyinggung, ada yang bukan mahasiswa maasih mengaku mahasiswa,
Ada yang bukan ketua BEM tapi mengaku ketua BEM. Bahkan yang paling lucu adalah kampus itu tidak ada BEM, dia mengaku sebagai BEM.

Exit mobile version